Yoo.. Hindari Perilaku Korup...!!

Rabu, 24 Desember 2014

PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN PURBALINGGA YANG KE-184

Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-184 kali ini diisi dengan berbagai kegiatan. Walaupun acaranya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, tetapi cukup bermakna karena mempunyai efek positip bagi masyarakat.

Sebelumnya acara Jalan sehat dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-184 ini, diikuti ribuan peserta. Jalan sehat dilepas langsung Bupati Purbalingga di Alun-alun Purbalingga, Minggu (21/11), dihadiri pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah(FKPD) Kabupaten Purbalingga, diikuti masyarakat, staf SKPD se Kabupaten Purbalingga dan pelajar.


Puncak acara dengan Pawai Budaya yang digelar Selasa (23/12/2014) siang. Pawai yang menjadi agenda penutup ini menampilkan aneka seni tradisional Purbalingga serta budaya unik dari sejumlah kabupaten di Jawa Tengah bagian Selatan. Tercatat ada 62 grup tampil menghibur pengunjung di sepanjang Jalan Jenderal Soedirman Barat sampai alun-alun kota setempat.
Nuansa seni khas Purbalingga dan Banyumas mendominasi pawai budaya tersebut. Seni Lengger dengan penampilan lengger lanang (Lenang) membuat penonton tertawa di akhir penampilannya. Selain itu, kehidupan masyarakat Purbalingga seperti bertani, menderes, menangkap ikan, hingga sikap warga Purbalingga yang Blakasuta (apa adanya) juga disuguhkan dan dikemas dalam nuansa tarian yang apik serta menarik.

Pawai budaya diawali dengan laporan Suba Manggala yang diperankan oleh Drs Subeno MHY, Staf Ahli Bupati Bidang Sumberdaya Manusia kepada bupati Sukento Rido. Di belakanganya tampil kelompok pembawa lambang daerah, kemudian barisan prajurit Kraton Surakarta yang berjumlah 20 orang. Pasukan pembawa dua buah gunungan berisi sayuran dan hasil pertanian bersigap dan meletakan gunungan tersebut di kanan kiri podium tamu undangan. Gunungan ini menjadi rebutan masyarakat usai acara ditutup.

Penampilan Batik Carnival dari perajin batik Sokaraja Banyumas juga ikut membuat decak kagum penonton. Penampilan lainnya yang tak kalah menarik seperti tari Bungah (SMKN 3 Banyumas), kuda Kepang yang telah direvitalisasi dari Kecamatan Kalimanah juga membuat penonton berdecak kagum. Penampilan lain, nuansa kenthongan tak lepas dari pawai budaya kali ini. Dengan modifikasi yang berbeda-beda, kenthongan tetap menarik dan unik dinikmati.


Kreasi tari dan budaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat juga apik untuk ditonton. Seperti tarian Parak Iwak (Kemangkon), Gethek Kali Klawing (SMPN  1 Bojongsari), Bokoran, tradisi tujuh bulan bagi ibu hamil, tari Lengger, Nitis (nderes) yang dibawakan SMKN 1 Purbalingga, kemudian Sapu-sapu (Sanggar tari Citra Budaya), Blakasuta (SMAN 1 kemangkon), Begalan, dan sejumlah tarian lain yang menarik.
Tarian Kupyak Kali yang dibawakan siswa SMAN 2 Purbalingga juga cukup menarik ditonton. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat disepanjang Sungai Klawing yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Sungai Klawing belakangan ini naik daun dengan batu nogosui dan pancawarna yang mulai diburu para penggemarnya.

Penampilan seni dari sejumlah kabupaten juga semakin melengkapi pawai budaya yang mengambil tema ‘Melalui Pawai Budaya, Kita Lestarikan Seni Tradisi’ ini. Penampilan dari kabupaten tetangga tersebut seperti Dolalak (Purworejo), tari Topeng Hitam (Magelang), Tari Tuk Bimo Lukar (Wonosobo), Seni Buroq (Kabupaten Brebes), Pelangi Di Atas Serayu (Banjarnegara), dan tari Buncisan (Banyumas).

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Drs Sri Kuncoro mengatakan, pawai budaya dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak masyarakat untuk mengembangkan karya kreativitasnya di bidang kebudayaan sebagai satu ciri kehidupan masyarakat Purbalingga yang dikenal semangat, ceria, lugu serta cablaka (blakasuta) atau apa adanya. “Pawai budaya ini juga mendukung kunjungan wisatawan ke Purbalingga,” kata Sri Kuncoro.

Kuncoro menambahkan, penampilan setiap peserta dipantau dewan pengamat yang difokuskan pada koreografi, kekompakan, penampilan dan kostum serta properti. Untuk memberikan semangat, panitia juga memberikan hadiah kepada enam juara berupa sapi dan kambing. Setiap regu juga mendapat bantuan uang pembinaan serta bantuan transport. “Penampilan para peserta ternyata luar biasa, sejumlah seni tradisi yang nyaris punah seperti Rodat, Dames, dan Daeng Paksi Muda, mampu ditampilkan apik dan menarik,” ujar Sri Kuncoro.

Bupati Sukento Rido Marhaendrianto mengatakan, puas dengan pawai budaya kali ini. Sukento bahkan memberi nilai 99 untuk kegiatan ini. “Pawai budaya ini ternyata mampu mengangkat seni tradisi lokal yang hampir punah, saya puas dengan penampilan semua grup. Mudah-mudahan pawai yang bisa menghibur masyarakat dapat dilaksanakan kembali tahun depan,” ujar Sukento.

Namun, di sisi lain, kemeriahan ini memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan. Untuk mengantisipasi, polisi lalu lintas Polres Purbalingga memberlakukan buka tutup jalan. Akibatnya kendaraan menumpuk pada jalur alternatif. Arus lalulintas kembali normal pada siang harinya.

Sumber: Humas Pemda Pbg, Harian Satelit Post, Harian Suara Merdeka dan Kontributor Paguyuban Linggamas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar